D i n g i n
Beku
Lalu
Hangat
Mencair
Dalam Kata
Senyuman
Rupa
Dan Gelak Tawa
Menjelang Malam
Langit mendung, ucapmu?
'Tak ada bintang di sana'
Usahlah khawatir
Lihatlah ke bawah
Gemerlap lampu lampu kota mengalahkan cahaya bintang
Sementara untaian air hujan mulai turun membasahi bumi
Dan lagi
Ada aku
Meringkuk di bawah sana dengan senyuman
Wajah putih dan bulat nan tampan rupawan
Hanya dalam hitungan jari mampir ke mayapada
Lalu kembali ke surga
Doakan bapak dan ibumu nak
Agar mereka dapat bertemu dan bermain denganmu kelak
Meminum anggur yang tidak memabukkan
Dan dari pohon yang subur memetik buah-buahan
Sabtu, 30 April 2011
Senin, 16 Maret 2009
Becoming a Mom
Putriku tertidur lelap di tempat tidur. Jadi teringat kembali saat ia pertama kali menyapa dunia.
Beberapa teman sering kali bertanya, bagaimana rasanya hamil dan punya anak? Kurasa, tidak akan dapat terbayangkan sebelum kita merasakannya sendiri.
Kami -aku dan suamiku- tahu bahwa Haifa sudah ada -dalam bentuk janin-, saat ia berusia 6 minggu. Itu menjawab pertanyaan keherananku, mengapa aku tiba-tiba menjadi mual mencium bau daging, dan telingaku berdenging hampir tuli pada saat aku telat makan sebentar saja.
Kami sedang dalam perjalanan dari Depok ke Jatinangor, untuk registrasi kuliahku di semester itu. Mampir ke sebuah restoran bento di Bandung, dan aku merasa mual mencium wangi beef teriyaki yang dipesan oleh suamiku.
Hingga akhirnya kami membeli testpack dan menyadari bahwa akhirnya tes urin menyatakan positif. Dan dimulailah perjalanan selama 40 minggu haifa di dalam kandunganku.
USG pertama, tampaklah segumpal darah di dalam rahim menyatakan kepastian bahwa aku benar-benar hamil. Aku jatuh cinta pada bayi itu.Lalu tampaklah ia bergerak-gerak, berenang-renang -di bulan ketiga-, tidur -bulan keempat-, dan menghisap jarinya -bulan kelima-, yang membuat kami takjub akan proses itu.
Aku masih bolak-balik ke kampus hingga bulan ketujuh, di saat liburan semester tiba, dan kemudian kami memutuskan bahwa akan mempersiapkan persalinan di rumah kami di Depok. Dan sejak itu, berat badanku naik hingga 15 kg di minggu ke empat puluh.
Haifa lahir melalui proses persalinan normal, yang diinduksi. Dokter memutuskan untuk induksi meskipun tepat pada minggu ke 40, ia sudah berniat untuk keluar dengan adanya bukaan satu. Proses induksi, kata ibu yang lain, adalah proses yang sangat lebih sakit dibandingkan dengan proses bukaan yang biasa, karena bayi didorong untuk keluar saat ia masih ingin berada di dalam. Proses tersebut berlangsung cepat. Dari bukaan dua pada saat aku datang ke rumah sakit, menuju bukaan empat di jam 3 sore, dan terus membuka hingga bukaan sepuluh dan lahirlah haifa pada pukul 19.15.Keseluruhan proses itu kulalui dengan didampingi oleh suamiku, yang kemudian langsung mengumandangkan azan dan iqamat di telinga kanan dan kiri haifa.
Bayi itu sangat mungil, dengan berat 3,232 kg dan panjang 49 cm, memiliki jerawat di hidung akibat pengaruh hormon ibu di kandungan, serta cuping telinga yang agak keriting, membuatku akan selalu bisa membedakannya dari bayi-bayi lain yang juga lahir di hari itu.
It's so amazing to be a mom.
Langganan:
Komentar (Atom)